Masih Bisa Ketawa Walau Tidak Mengerti Semua Bahasa di Ludruk Zaman Now

Saya rindu akan masa-masa masih duduk di sekolah dasar, rindu menantikan hari Minggu hanya untuk bangun Pagi lalu menyaksikan film kartun di TV. Tidak seperti sekarang, saya menantikan hari Minggu hanya untuk bangun tidur tanpa harus ada tanggung jawab pergi ke kantor. Meski saya sering tetap bangun jam 8 pagi hanya untuk menonton Doraemon, setelah selesai menonton Doraemon biasanya saya akan kembali tidur.


Padahal waktu masih di sekolah dasar saya bisa bangun jam 5 Pagi untuk menonton TV sampai jam 12 Siang. Rasanya bahagia sekali, walaupun sekarang saya bisa menyaksikan film kartun di Youtube tapi rasanya beda dengan menontonnya di TV. Kalian pada merasa seperti itu juga, gak?

Bukan hanya film kartu, beberapa acara TV seperti kuis atau reality shownya juga saya suka sekali. Kalau sinetronnya saya masih suka dengan sinetron tahun 90-an sampai awal tahun 2000, ya. Sinetron terakhir yang saya sangat suka adalah Cinta Fitri, dan sinetron tersebut yang membuat saya jatuh cinta akan advertising. Karena latar belakang pada sinetron tersebut bercerita tentang kehidupan keluarga yang mempunyai perusahaan periklanan.

Terakhir, yang sangat saya suka dengan acara TV adalah acara lawaknya. Pastinya kamu ingat kan acara ngelaba yang membesarkan nama Patrio? Atau Srimulat yang membesarkan nama Nunung dan teman-temannya? Duh, saya rindu sekali dengan acara-acara tersebut! Makanya waktu mendapat ajakan dari Bena untuk menyaksikan pagelaran seni tradisi ludruk di TIM saya susah sekali untuk menolaknya.

“Ini pakai bahasa Indonesia apa bahasa daerah, ya?” tanya saya ke kak Vika yang dijawab dengan “Kayanya bahasa Indonesia, sih” yang ternyata bahasanya campur-campur. Wkwkwk. Untungnya beberapa lawakannya masih menggunakan bahasa daerah yang cukup familiar di kuping saya, dan untungnya samping saya ada Bena yang mengerti bahasanya jadi saya suka dikasih tahu artinya apa.

Pagelaran seni tradisi Ludruk Genaro Ngalam yang kemarin saya saksikan mengambil lakon “Misteri Istana Songgoriti.” Cerita yang sangat ringan dan membuat kami para penontonnya tidak berhenti tertawa karena kehadiran Polo, Kadir, dan juga Tessy sebagai “senior” dan juga lulusan acara Srimulat yang sudah tidak diragukan lagi lucunya. Dan, lawakan mereka tidak harus menghina fisik orang lain hanya untuk membuat orang lain ketawa, lho.


Oh iya, meski pun sudah ada dari dulu ludruk yang kemarin saya tonton dikemas secara kekinian, makanya disebut ludruk zaman now. Meski mengambil jalan cerita dari jaman sebelum saya dilahirkan tapi beberapa gaya bahasa berbicara mengambil dari bahasa zaman now. Jadi, untuk kamu yang belum pernah menyaksikan acara sejenis ini masih bisa menikmati acaranya, ya.

Ludruk zaman now bisa hadir kembali berkat kerja keras dari Paguyuban Genaro Malang. Hayooooo, siapa yang tahu tentang Paguyuban Genaro Malang? Iya, sayapun tahu waktu kemarin datang, sih. Hahaha. Jadi Paguyuban Genaro Malang adalah suatu paguyuban nirlaba dan non politik, yang didirikan tahun 1985. Kenapa mereka memilih Ludruk? Hmm, kenapa, ya?


Ternyata, pagelaran ludurk ini sudah menjadi kegiatan rutin tahunan mereka, dan juga salah satu tradisi seni yang sangat lekat dengan masyarakat Jawa Timur. Kamu juga harus tahu pemirsa, kalau ludruk memiliki peranan yang sangat penting di masa perjuangan perang kemerdekaan, lho! Karena ludruk suka menggunakan bahasa daerah yang pengucapannya dibalik, dan karena pengucapannya suka dibalik pihak lawan jadi sulit mengerti bahasa para pejuang dulu.

Kabar baiknya, sampai saat ini pun, Ludruk masih suka dijadikan sarana sosialisasi pemerintah dalam menyampaikan pesan-pesan bagi masrakatnya. Makanya, bahasa di dalam ludruk sangat ringgan dan mudah dimengerti oleh semua kalangan, ya. Contohnya, Aris yang tidak mengerti bahasanya saja masih tetap ketawa pada saat menyaksikannya. Kira-kira pemirsa mau tidak menonton Ludruk bareng saya?

No comments:

Post a Comment