Merasakan Cinta Satu Malam di Melaka, Malaysia

“Mau ngapain ke Malaysia? Ada apa di sana?”

Pertanyaan tersebut selalu hadir setiap kali saya bilang mau pergi ke Malaysia, saya pribadi selalu suka kembali ke Malaysia, kamu juga, kah? Salah satu alasan saya suka ke Malaysia, kalau sudah menyerah berbicara dengan bahasa Inggris, saya bisa menggunakan bahasa Indonesia saja, mereka juga akan sepahaman, kok.

Karena kali kedua saya ke Malaysia, jadinya saya mau mencoba tujuan baru, dan pilihan saya jatuh ke Melaka. Sejujurnya saya tidak pernah tahu apa itu Melaka. Wkwkwk. Berbekal dari tanya sana sini dan googling dapatlah Melaka, untung bukan dapat jodoh, meskipun saya juga tidak menolak kalau dapat jodoh.

Jarak dari Kuala Lumpur ke Melaka kurang lebih dua jam saja pemirsa, selayaknya perjalanan kamu dari Tangerang ke Bandung lah ya, kamupun cukup menggunakan transportasi bus saja dengan tarif kurang dari limapuluh ribu rupiah saja. Transportasinya mirip dengan Damri kalau di Indonesia, tapi bangkunya lebih nyaman, padahal harganya tidak jauh beda yekan.

Setibanya di terminal bus sayapun kebingungan harus kemana, karena tidak terlihat transportasi umum yang bisa saya tumpangi, untungnya ada teknologi taksi online yang siap membawa saya kemana saja seperti pintu kemana sajanya Doraemon. Kalau kamu bertanya tidak mahal menggunakan taksi online? Saya dan teman saya menghitung-hitung tarifnya masih masuk akal dengan tambahan kami yang tidak tahu jalan, karena ada kode promo juga, sih. Wkwkwk.

Sebelum saya bercerita lebih lanjut tentang Melaka, saya mau menceritakan penginapan saya di sana, salah satu penginapan yang menurut saya sudah paling murah. Ingat, menurut saya, ya. Waktu itu saya menginap di Manggis Lodge di daerah dekat Jonker Walk milik Reno, penginapan ini saya dapatkan dari Airbnb. Reno sebagai pemilik sangat membantu, saya tanya ini itu selalu dijawab dengan baik, tanpa menyuruh untuk googling terlebih dahulu. Wkwkwk.


Saya menginap di daerah Jonker Walk dengan tarif semalam $13! Murah, kan? Tidak, tarif semalam $13 tersebut tidak untuk saya sendiri, tapi untuk berdua. Bayangkan dong, penginapan semalam buat berdua hanya $13 saja pemirsa, dan ini bukan termasuk hostel, ya, semacam guest house gitu sih kayanya. Walaupun kamar mandinya di luar, tapi pas saya menginap tamunya hanya saya dan teman saya, jadi ya berasa kamar mandi sendiri. Oh iya, karena kamarnya yang cukup luas, kamu tidur berempat pun masih cukup, kok.


Saya pribadi selalu menyiapkan handuk dan perlengkapan mandi sendiri, untuk kamu yang malas membawanya, Manggis Lodge ini menyediakan perlengkapan tersebut, kok. Jadi tidak perlu takut tidak bisa handukan, ye. Selain itu, Manggis Lodge tidak menyediakan sarapan, menurut ngana sih, dengan harga $13 semalam masih mau mendapatkan sarapan juga.


Seperti yang tadi saya bilang, Manggis Lodge ini bukan hostel tapi kamu benar-benar mendapatkan kamar, dan kamarnya luas banget (bisa kamu lihat difoto-foto saya untuk perkiraan luasnya). Keistimewaan tempat ini, sangat dekat kemana-mana, karena Melaka yang tidak terlalu besar juga, sih. Selama di sana pun saya kebanyakan jalan kaki.

Untuk permasalahan perut, Melaka masih termasuk tempat yang sangat manusiawi, karena kamu akan dengan mudahnya menemukan makan dari yang halal sampai yang belum sempat halal tentunya ada. Dan, rasanya masih masuk dilidah saya, kok. Selama di Melaka pun saya merasa seperti berada di Semarang. Saya akan berencana kembali ke sana, karena kemarin hanya satu malam oh indahnya cinta satu malam buat ku melayang itu kurang puas. Lah.

Kalau kamu rencana mau ke Melaka dan masih bingung menginap dimana, Mangis Lodge ini sangat-sangat-sangat ciamik, sayapun menyesal hanya satu malam di sana, maunya habis satu malam ada kejelasan kedepannya gitu. Ya salam, sepertinya saya sedang halu pemirsa.

21 comments:

  1. Kok hostel nggak kayak hostel ya. Njer. Gue langsung nyari ini penginapan di traveloka. Wakakaak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, makanya wkwkwk jadi kaya guest house per kamar aja lol

      Delete
  2. waktu ke Melaka nginep di rumah teman yang katanya tinggal di pedesaan alias kampung,saking penasaran seperti apa desa di Malaysia,ternyata pas sampe sana nggak desa banget seperti yang dibayangin, lebih mirip perumahan. lol

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener! Wkwkwkwk gue di Melaka berasa lagi di komplek Halim masa, mas.

      Delete
  3. Nyesel ke Malay gak ke daerah sini... Pengen deh traveling brg Oky.. Biar makin hitzzzz

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lah kita kan emang udah hits! Wkwkwwk

      Delete
  4. Belom pernah ke Melaka, deh. Itu selat, kan? Aku sih penasaran naek kapal laut dari Indonesia ke Malaysia, hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kaya selat gitu tapi cakep Fir wkwkw

      Delete
  5. Belum pernah ke malaysia :(
    nanti kalo ke malaysia lagi dan ada tijet promo ajak aku lah ya kiii :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener ya! Nanti aku colek-colek buat beli barengan wkwkwkw

      Delete
  6. Itu taksi online nya sama gak kayak yg ada di Indonesia?
    Teralis besi di jendelanya keren ya, kayak insta grid di Instagram gitu haha
    Masukin wish list buat tahun depan. Semoga ada aaamiinn... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sama, kan ada taksi online di Indonesia yg asalnya dari Malaysia wkwwk

      Delete
  7. kalau mau tanya kejelasan, tanya tuh sama teman sekamar, habis ngapain aja sesaat menjelang tidur di melaka? wkwk

    ReplyDelete
  8. wow penginapannya murah bangettt, apalagi bagi 2 sehari cuma 70an ribu gan.



    dekorasi rumah minimalis

    ReplyDelete
  9. plong banget ya ruangan kamarnya.

    ReplyDelete
  10. Kayaknya seru ya Ki. Gue belum pernah ke Malaysia apalagi Malaka. Tapi bolehlah referensi kalo nanti mau kesana. Hahahaha.

    ReplyDelete
  11. Itu via airbnb aja ya mas bisa bookingnya?

    ReplyDelete
  12. Harganya worth it banget buat kamar segitu. Noted ya buat nanti kalau jalan ke Melaka...

    ReplyDelete