Merasakan Penderitaan Anak Jalanan Melalui Film Surat Kecil Untuk Tuhan

Alhamdullilah kantor saya memberikan libur Lebaran yang cukup lama, dan kabar baiknya, kalau libur Lebaran ini tidak memotong jatah cuti tahunan. Sekali lagi, alhamdullilah. Sebenarnya, libur lama juga bikin bosan, sih, apalagi tidak ada rencana kemana-mana, selain rencana bangun agak Siang.

Untungnya, ada beberapa film Indonesia yang hadir di bioskop saat Lebaran. Salah satu film yang saya tonton adalah Surat Kecil Untuk Tuhan. Meskipun judulnya ada unsur Tuhan, tapi film ini tidak mewakilkan dari salah satu agama, kok. Menurut saya, ya.


Seperti biasa, saya kalau mau nonton film memang selalu tidak melihat trailer atau baca sinopsisnya, biar mengikuti jalan ceritanya secara mengalir saja, kecuali untuk film-film yang memang sudah saya baca novelnya.

Secara luas, Surat Kecil Untuk Tuhan menceritakan kisah seorang adik-kakak yang sudah tidak mempunyai orang tua, bisa dilihat dari awal film yang langsung menceritakan kehidupan mereka bersama paman dan bibinya. Karena tekanan dan kekerasan dari sang paman, akhirnya mereka memutuskan untuk keluar dari rumah bibinya.


Bisa kamu bayangkan? Adik-kakak yang masih terlalu kecil sudah kepikiran buat keluar rumah? Saya yang sudah mau seperempat abad saja masih mikir dua kali buat keluar dari rumah.

Setelah keluar dari rumah, mereka ditemukan oleh Om Rudi. Ternyata, Om Rudi ini selayaknya preman yang menjadi “bapak” untuk para anak jalanan. Namun, Om Rudi juga tetap mencarikan mereka orang tua asuh.

Surat Kecil Untuk Tuhan juga menceritakan bagaimana kerasnya kehidupan di jalan raya, apalagi di jalan raya ibu kota. Bagaimana para anak kecil dipaksa untuk bekerja, padahal mereka lagi senang-senangnya bermain. Cacian dari para pengguna jalan yang t'lah menjadi makanan mereka sehari-hari, sudah menerima cacian dari para pengguna jalan, masih menerima cacian dari “bos” mereka juga.


Kata orang, film ini membawa kesedihan dari awal sampai akhir. Menurut saya tidak, film ini masih ada beberapa bagian yang memberikan kebahagian dibalik kesedihan, lho. Apalagi dengan kehadiran Aura Kasih sebagai Ningsih yang tidak terduga malah menjadi kunci akan kisah ini. Malah saya lebih senang dengan kehadiran Aura Kasih dibandingkan dengan BCL, kalau Joe Taslim sudah pasti menjadi alasan saya untuk menonton film ini. Sayapun salut dengan Joe Taslim, ternyata dia bisa bermain pada film drama juga, padahal seringnya di film action kan.


Tapi sayangnya, Joe Taslim dengan BCL tidak mendapatkan chemistry sebagai sepasang kekasih pada film ini. Saya lebih senang dengan pendalaman peran dari Aura Kasih sebagai Ningsih, begitu pun dengan Izzati Khanza dan Bima Azriel yang berperan sebagai Angel dan Anton sewaktu kecil, kedua anak kecil tersebut patut diacungkan jempol saat berperan sebagai adik-kakak yang saling menyayangi.

Terakhir, inti kisah ini terjadi saat Angel kecil tertabrak mobil, dan seingat saya Angel kecil tersebut koma atau kritis di Rumah Sakit. Dan, pada saat yang bersamaan Anton pun mendapatkan orang tua asuh, yang membuat Angel dan Anton berpisah.

Apakah pada akhirnya Anton dan Angel akan bertemu lagi di masa depan? Dan, ada apakah dengan Ningsih yang menurut saya menjadi kunci akan kisah pada film ini? Menjadi peran seperti apa Joe Taslim pada film ini? Semua jawaban bisa kamu dapatkan kalau kamu menonton film ini, dan saya pastikan kamu tidak akan pernah menyesal pernah menyaksikan film ini di Bioskop. Sampai bertemu di Bioskop, Sayang!

Credit Photo: 21cineplex & BookMyShowID

10 comments:

  1. Dulu pernah bacaa bukunya surat kecil untuk tuhan 😁 tp penasaran pengen nonton. Hehehe

    ReplyDelete
  2. saya kok malah curiga joe taslim ini kakaknya BCL. hehe. kalau baca sinopsisnya ini premisnya mirip film Lion itu.

    ReplyDelete
  3. Beneran bagus ya? Belum sempat nonton kebanyakan silaturahmi

    ReplyDelete
  4. Saya nonton film Surat Kecil Untuk Tuhan bersamaan dengan keponakan. awal-awal memang masih bisa dimengerti sama keponakan walau banyak pertanyaan yang terlontar dari keponakan..
    ketika dibagian fase dewasa sudah mulai gak fokus keponakan saya karena mulai gagal faham hehe

    ReplyDelete
  5. Harus siapin tisu nih kalo nonton biar ga banjir. Hehe

    ReplyDelete
  6. PErsentase keinginan saya menonton film ini sebenarnya sangat kecil. Meski sudah membaca review dari mas Oky persentase tersebut belum juga menanjak naik.

    ReplyDelete
  7. harus bawa tissue yang banyak nda kak Oky. terutama yang gampang tersentuh hatinya?

    ReplyDelete
  8. sedih bgt yaaa kayaknya

    belum baca bukunya sih,tp engga penaaran juga :(

    ReplyDelete
  9. filmnya sangat sedih banget. apalagi kasiah si angel terkena sebuah penyakit dan harus menyebabkan ia menderita dengan penyakitnya :(

    ReplyDelete
  10. Aku belum liat film ini tp aku suka film yg bnyk kisah moral seperti ini

    ReplyDelete