Kenapa Kamu Harus Menonton Cek Toko Sebelah?


Saya lupa tepatnya bagaimana saya bisa kenal dengan yang namanya Ernest Prakasa, padahal saya bukan penikmat stand up comedy, saya kenal dia ya dari Twitter, bahkan dianya juga tidak kenal dengan saya tentunya.

Pada tahun 2015, saya baru tahu kalau dia sudah menerbitkan buku, dijadikan film pula buku-bukunya, dan saya senang sekali dengan filmnya yang tulisan tentang filmnya bisa kamu baca di sini.

Akhir tahun kemarin dia baru saja berkarya lagi dengan film terbarunya, film yang berjudul Cek Toko Sebelah, judul yang sederhana, dan memang ada dikeseharian. Kenapa bisa bilang keseharian? Coba kamu ke Pusat Grosir Cililitan lantai 3, di sana banyak sekali toko handphone dengan penjualnya yang keturunan Tionghoa, kalau kamu menawar ditokonya pasti dibilang “coba lu olang cek toko sebelah”.

Saya menonton film Cek Toko Sebelah ini sebanyak dua kali, pada waktu kedua kali saya menonton film ini, tetap sukses dibawa ketawa, terus dibikin senduh, eh dibikin ketawa lagi. Kan anjing.

Saya ingin mengajak kamu buat menonton film ini, kalau kamu bertanya “Kenapa saya harus menonton cek toko sebelah?” sini saya jelaskan kenapanya.

Pertama, baru kali ini saya menonton film dengan semua pemainnya yang sangat tepat, tidak ada yang dibuat-buat kecuali peran Natalie yang diperankan oleh Gisella Anastasia. Pertanyaan saya, apakah Gisel baru pertama kali main film? Atau memang perannya dia yang seperti itu? Sejujurnya, dia sangat kaku kaya kanebo kering.

Credit Photo: 21cineplex.com
Seperti yang saya bilang sebelumnya, kalau semua pemain di sini sangat tepat, bukan hanya tukang ketoprak, pegawai toko, bahkan Kaesang saja berperan sangat tepat, dan sukses membuat saya ketawa. Soalnya kalau membuat saya jatuh cinta sudah dari dulu #ea

Dan, percakapan antara Erwin dengan Natalie yang suka menggunakan bahasa Inggris sungguh sangat aneh, tidak natural, setidaknya menurut saya.

Kedua, saya sangat kaget dengan banyaknya pribumi yang menonton film ini. Saat menonton film ini pertama kali saya menontonnya di Central Park, yang dimana 80% pengunjungnya keturunan Tionghoa semua. Tapi untuk kali kedua kaya Raisa, saya menontonnya di Djakarta Theather, dan alhamdullilah studio yang menayangkan film Indonesia penuh serta ngantrinya seperti kaya mau menonton film Holywood.

Kenapa saya kaget dengan banyaknya pribumi yang menonton? Seperti yang kalian tahu kalau social media akhir-akhir ini lagi kurang asyik dengan berita yang topiknya SARA, sampai ada lho di timeline Facebook saya yang bilang “Presiden bukannya memperhatikan rakyat, malah sibuk mempromosikan film yang ada anaknya”. Memang netizen Indonesia sangat luar biasa.

Ketiga, kamu akan menemukan pelajaran hidup di film ini. Pelajaran untuk saling menghormati, saling menjaga perasaan, dan saling tolong menolong tanpa melihat siapa kamu. Dan, pada film ini, para orang tua harusnya merasa tertampar. Tampar aku, Mz, tampar!

Keempat, sebenarnya saya sudah sempat menebak akhir film ini seperti apa setelah saya membaca sinopsis filmnya, eh ternyata perkiraan saya meleset. Kan kesal.

Sepertinya cukup sekian saja cerita saya kali ini, lebih baik kamu menonton film ini segera, mumpung masih ada di bioskop, kabar terakhir selalu bertambah lho studionya. Ernest Prakasa memang luar biasa!

3 comments:

  1. Gue juga pengin nonton filmnya, ntar wikenlah. Banyak review yang gue baca, bagus.

    ReplyDelete
  2. aku udah nonton juga, kocak banget

    ReplyDelete