5 Pelajaran Hidup Yang Terdapat Dalam Film Siti

Credit Photo: 21cineplex.com
Saat membaca kultwit tentang film Siti di salah satu akun Twitter, akun tersebut bilang kalau film Siti belum pernah ditayangkan di bioskop apapun di Indonesia tapi hebatnya bisa menang di Festival Film Indonesia. Karena film tersebut kabarnya memang film independent. Sepertinya sudah lama banget gue tidak mengikuti perkembangan ajang perfilman di Indonesia, khususnya Festival Film Indonesia, atau yang biasa disingkat menjadi FFI.

Akhirnya gue membaca semua ulasan tentang film tersebut dan penasaran sendiri jadinya, untungnya mulai tanggal 28 Januari 2016 akan ditayangkan dibeberapa bioskop saja. Tanpa pikir panjang, guepun mendatangi salah satu bioskop untuk menonton film ini. Dibawah ini gue kasih sinopsis dari film tersebut, ya, yang gue kutip dari 21cineplex.com.
Bercerita kehidupan satu hari seorang perempuan bernama Siti (Sekar Sari), 24 tahun. Siti adalah seorang ibu muda, yang harus mengurusi ibu mertuanya, Darmi (Titi Dibyo), anaknya, Bagas (Bintang Timur Widodo), dan Suaminya, Bagus (Ibnu Widodo “Gundul”). Bagus mengalami kecelakaan saat melaut setahun yang lalu, mengakibatkan tubuhnya mengalami kelumpuhan. Kapal Bagus yang baru dibeli dengan uang pinjaman hilang di laut. Siti harus berjuang untuk menghidupi mereka dan membayar hutang pada pak Karyo (Chatur Stanis).

Disaat keadaan makin terjepit, Siti terpaksa bekerja siang dan malam. Pada siang hari Siti berjualan Peyek Jingking di Parangtritis. Malam hari Siti bekerja sambilan sebagai pemandu karaoke untuk menambah penghasilan. Bekerja sebagai pemandu karaoke membuat Bagus tidak suka pada Siti dan membuatnya tidak mau bicara lagi dengan Siti. Keadaan ini membuat Siti frustasi. Gatot (Haydar Saliz), seorang polisi yang dikenal Siti di tempat karaoke menyukai Siti sejak lama dan ingin menikahinya. Gatot meminta Siti untuk meninggalkan suaminya. Siti dalam kebimbangan. Tekanan hidup membuat Siti harus memilih.
Film Siti ini banyak sekali memenangkan berbagai macam penghargaan, baik dari ajang perfilman dalam negeri ataupun luar negeri. Salah satunya memenangkan nominasi Best Performance for Silver Screen Award di Singapore Internation Film Festival 2014.

Pada postingan kali ini, gue nggak mau menjelaskan secara detail filmnya seperti apa, mau spoiler pun boleh yekan? Kan nggak ada di semua bioskop. Sekarang gue hanya mau memberitahukan pelajaran apa saja yang bisa kita ambil hikmahnya dari film Siti tersebut.

1. Jangan Pernah Memandang Remeh Seorang Perempuan.
Credit Photo: muvila.com
Masih banyak para kaum Adam yang sangat meremehkan para kaum Hawa. Padahal tanpa adanya kaum Hawa, kaum Adam akan kesepian, kecuali kaum Adamnya senang sama kaum Adam juga. Dalam film ini bisa dilihat, apa jadinya Bagus tanpa adanya Siti? Mungkin orang tua atau keluarganya Bagus yang akan dikejar-kejar hutangnya. Untung masih ada Siti yang setia sama Bagus dalam keadaan suka maupun duka.

2. Jangan Pernah Melarang Istri Untuk Membantu Suami Mencari Nafkah.
Credit Photo: muvila.com
Waktu masih sekolah gue agak kesal kalau melihat seorang Ibu yang sibuk bekerja dan menelantarkan anak-anaknya di Rumah. Tapi cara berpikiran gue berubah setelah masuk di dunia kerja, apalagi dikerjaan yang sekarang, beh berubah banget, cong. Di Kantor gue yang sekarang banyak banget perempuannya, baik yang masih muda sampai yang sudah tidak muda lagi pun ada. Eh, itu mah disetiap kantor kayanya ada, ya.

Beberapa kali gue tanya sama teman-teman di Kantor yang masih mau bekerja padahal sudah menikah dan punya suami yang lumayan mapan. Mereka cuma jawab, "Lumayan, Ky, gajinya masih bisa nambah-nambahin uang dapur sama beli susu anak." atau ada juga yang bilang, "Gajinya masih bisa untuk bayaran anak sekolah sama keperluannya mereka, Ky, jadi suami gue tinggal mikirin keperluan rumah tangga aja. Macam bayar listrik, air, ataupun cicilan rumah."

Kalau kata gue, jadi bagus lah ada bantuan dari seorang Istri, jadi suami gak berat-berat banget menanggung bebannya. Meski kalau malam suka Istri yang menanggung beban dari Suami, sih.

3. Sesibuk Apapun Orang Tua, Ada Baiknya Meluangkan Waktu Satu Hari Dalam Seminggu Untuk Bermain Bersama Anak.
Dalam film Siti, ada adegan dimana Bagas mendapatkan nilai rendah pada pekerjaan rumahnya, dan Siti bertanya: "Kenapa bisa dapat nilai jelek, Gas?" Bagas pun menjawab: "Ibu tidak mengajarkan Bagas soalnya."

Kejadian itu benar terjadi pada gue, sewaktu sekolah dasar, gue pernah mendapatkan nilai NOL pada pelajaran Matematika. Mau tahu pertanyaan Nyokap gue apa? Iya, pertanyaannya sama seperti yang Siti tanyakan kepada Bagas.

Maka dari itu, untuk kalian yang sedang membaca postingan ini dan sudah mempunyai anak, sudahkah kalian menemani anak kalian belajar tanpa kalian asyik sendiri dengan gadget atau TV?

4. Apapun Pekerjaan Istri, Selama Itu Halal Dan Tidak Merugikan Orang Lain, Kenapa Harus Dilarang?
Credit Photo: muvila.com
Memang, pada film ini, Siti diceritakan sebagai pekerja pemandu karaoke. Jeleknya orang Indonesia, terkadang mereka tanpa bertanya atau mencari tahu karena orang-orang lebih senang mencari tempe daripada tahu dulu seperti apa pekerjaan Siti di sana yang sebenarnya. Coba kalian yang sering karaoke di tempat karaoke, apa semua pemandu karaoke pasti menemani customernya? Kan nggak. Karena hanya satu atau dua orang saja, membuat semua orang berpikiran jelek terhadap pekerjaan ini. Padahal pekerjaan ini termasuk halal kalau kata gue, dan tidak merugikan orang lain, apalagi sampai merugikan negara.

5. Jangan Melarang Sesuatu Hal, Kalau Kamu Masih Suka Dengan Hal Tersebut.
Credit Photo: muvila.com
Pada film Siti, ada adegan dimana tempat karaoke Siti terkena razia, karena tidak memilik izin dan menjual minuman keras. Padahal yang keras-keras kan enak, ya? #ehinijari Lagian minuman keras itu apa? Minuman yang kelamaan disimpan di Kulkas? Makanya bisa jadi keras #ea

Tapi pada akhirnya, tempat karaoke itu diizinkan kembali untuk dibuka. Mungkin, ceritanya sudah mendapatkan izin, ya. Saat pembukaan tempat karaoke lagi, pemilik karaoke mengundang para "pejabat" yang kemarin merazia untuk dapat hadir pada hari pembukaan tersebut. Dan lucunya, para "pejabat" tersebut meminum minuman keras yang waktu itu mereka larang. Ibaratnya, seperti orang tua yang melarang anaknya menonton TV tapi orang tua tersebut malah menonton TV, kan gak adil yes. Sebenarnya tidak semua abdi negara seperti itu, sih, mungkin hanya sebagian kecilnya saja.

Apa ada dari kalian semua yang sedang membaca postingan ini bertanya-tanya kenapa potongan gambarnya hitam-putih? Oh, nggak ada yang nanya, ya? Yaudah, deh, tetap gue jawab, soalnya film ini memang hitam-putih dan dalam filmnya menggunkan bahasa Jawa. Jadi penasaran gak sama filmnya? Ini gue kasih trailernya, deh.

16 comments:

  1. Jadi penasaran sama filmnya, sepertinya ceritanya ngena banget dikehidupan sehari-hari kita ya.

    ReplyDelete
  2. Aku pas lihat FFI uda pensaran banget pas tau film ini menang. dan ternyata uda menang dimana mana meski belum tayang di bioskop indo.. wacthing list nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, film keren begini malah laku di luar negeri ya hahahhaa

      Delete
  3. Replies
    1. wajib kak, cuma udah gak tayang lagi kayanya di bioskop heehehe

      Delete
  4. wah lengkap banget nih reviewnya, thanks

    ReplyDelete
  5. Gue kok ngeliat film ini lebih diperuntukkan untuk calon orangtua ya? Bener gak?

    Btw, yang ngelarang orang ngelakuin suatu hal tp dia sendiri ngelakuin itu masih banyak banget terjadi sekarang. HAHAHA.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya bisa untuk semua umur sih tapi ada adegan dewasanya juga, padahal pesan untuk anak2nya dapet juga lho kalo kata gw hahaha

      Delete
  6. Ada DVDrip atau BlurayRipnya ga, Ky? Mana ada bioskop di sini yang nayangan pelem beginian. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum dijual kayanya, Da, ini aja penayangannya khusus kok -_-

      Delete
  7. Film yg awalnya kekurangan dana itulah knp hitam putih. Dibungkus apik dg cerita dll nya, akhirnya menjadikan film ini menorehkan prestasi

    ReplyDelete